Uptime Kuma untuk Debugging: Cara Sederhana Nentuin Sumber Masalah

Uptime Kuma monitoring untuk debugging
Awalnya aku pakai Uptime Kuma itu bukan karena niat monitoring serius. Tapi karena kena kasus klasik waktu development React Native.
Kejadiannya sederhana, tapi nyebelin
Lagi develop app, API kelihatan normal. Masuk fase QA testing, muncul laporan:
“Di app error, datanya nggak muncul.”
Langsung kepikiran:
- Apakah bug di React Native?
- Salah handling response?
- State management ngaco?
Padahal pas dicek ulang, kode aman.
Ternyata masalahnya bukan di app
Setelah ditelusuri lebih dalam, ketemu polanya:
- Error muncul di jam tertentu
- Setelah itu normal lagi
- QA test kebetulan dilakukan di window waktu itu
Dan ya… API-nya sempat down.
Masalahnya waktu itu:
- Aku nggak punya bukti
- Nggak tahu kapan API down
- Jadi susah bilang: “ini bukan bug di app”
Setelah pakai Uptime Kuma
Begitu pasang monitoring HTTP di endpoint API:
- Kelihatan jelas jam berapa API down
- Kelihatan durasi downtime
- Bisa dicocokin sama waktu QA testing
Akhirnya bisa bilang dengan yakin:
“Error ini muncul karena API down di jam segini, bukan dari app.”
Dan itu ngehentikan debugging yang nggak perlu.
Alasan utama aku pakai Uptime Kuma
Bukan buat status page publik. Bukan buat SLA.
Tapi buat:
- Nentuin sumber masalah
- Bedain error di app vs backend
- Validasi laporan QA dengan data
Monitoring jadi alat bantu debugging, bukan cuma infra tool.
Pelajaran yang kepake sampai sekarang
- Kalau ada error intermittent, cek uptime dulu
- QA test tanpa monitoring = setengah buta
- Log penting, tapi uptime kasih konteks waktu
Kesimpulan singkat
Kalau error muncul di waktu tertentu, kemungkinan besar bukan kode—tapi dependensinya.
Uptime Kuma bantu jawab pertanyaan paling dasar:
“Sistem lain lagi sehat atau nggak saat error itu terjadi?”